Ya, Saya bekerja pada sebuah Toko Baju sederhana berlabel "Berkah", sore itu saya berniat menukarkan uang lima puluh ribu pada pengemis yang bertengger tak jauh dari tempatku bekerja supaya uang itu menjadi recehan.
"Mang! Bisa nukar duit beli!! ( Pak! Bisa nukar duit tidak ya)", ujarku pada seorang lelaki pengemis paruh baya yang sedari tadi bengong menatapku.
"Piraan?( Berapaan ?)", jawabnya.
"Lima puluh ribu ! Ana bele ? ( lima puluh ribu ! ada tidak? )"
Ia pun merogoh kantong saku dicelananya yang penuh debu dan memulai menghitung uang receh yang telah diambil itu dengan seksama.
Tak selang berapa lama, ia pun memberikan uang receh yang berupa ribuan, dua ribuan dan lima ratusan yang berjumlah lima puluh ribu itu ke Saya, Saya pun menghitung ulang uang itu dan menyerahkan selembar uang lima puluh. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepadanya.
Sebelum sempat saya pamit, ia menegurku,
"Ana maning bele? ( ada lagi tidak? )"
"Apanya?", ujarku
"Duitnya Cung! kita masi njegeni recean 200 ewuan ning endong celana buri! ( Duitnya Nak! Saya masih megang receh sekitar 200 ribuan di saku kantong celana belakang )"
Saya terperanjat bukan kepalang mendengar penuturanya, Sebesar itu penghasilan dia dari mengemis, dengan modal pakaian compang - camping dan muka lusuh penuh memelas, dia bisa mendapat uang sebesar itu, benar - benar jauh melebihi uang yang kudapat dari tempatku bekerja.
Belum sempat saya menjawab pertanyaannya, ia malah melanjutkan ucapannya,
"Ora usah pikir macem - macem Cung ! hasile kita ngemis kita emang lumayan cung tapi aja sampe wong sejen ngalamin seng kaya kita mekenen ( Ga usah berpikir macam - macam Nak! Hasilnya saya mengemis memang lumayan tapi jangan sampai orang lain mengalami hal seperti saya begini )"
"Kenapa emangnya Mang?", tanyaku.
"Masi mending menggawe kaya ira mekonon dadi karyawan, ngedol pakaian, oli gaji, akeh berka'e, besuk-besuk bisa bae ira mengko buka dewek! Daripada kaya kita mekenen....
Duit oli akeh seng ngemis, berka'e laka, masa depan gan bli jelas, sing paling parah nemen sing tek rasanang ning awak kita, Kita ngemis ku ora sebanding karo hasile!! ( Masih lebih baik bekerja seperti kamu, jadi karyawan, menjual pakaian, dapat gaji, banyak berkahnya, mungkin besok kamu bisa punya toko sendiri! Daripada seperti aku ini....
Duit dapat banyak dari mengemis, tidak ada berkahnya, masa depan tidak jelas, yang paling benar - benar parah yang saya rasakan. Saya mengemis itu tidak sebanding dengan hasilnya!!) "
Saya mendengar setiap ucapan yang ia katakan, dengan penasaran saya pun bertanya,
"Apa maksudnya Mang?",
Ia pun berdiri menatapku dengan nada agak meninggi dan mengacungkan telunjuknya di hadapanku, Ia pun meneruskan kata - katanya,
"Ira weru bele!! Wong ngemis ku ngedol apa ??
Wong ngemis kuu.. NGEDOL HARGA DIRI Cung!!
Kuen kuu seng tek rasaknang blenake ngemis kuu... laka regae,,, ora sebanding karo hasile...
(Kamu tahu tidak!! Orang ngemis itu menjual apa ??
Orang ngemis itu MENJUAL HARGA DIRI Nak!!
Itu yang yang saya rasakan tidak enaknya mengemis... tidak ada harganya,,,,, tidak sebanding dengan hasilnya...)"
Saya tertegun mendengarnya,
Karena merasa ditunggu Bos Saya, saya pamit pada pengemis itu, tak lupa saya mengulang ucapan terima kasih kepadanya. Walau sebenarnya saya masih ingin mengobrol dengannya dan menanyakan hal mendasar dari kata - katanya,
Kenapa dengan apa yang telah dia rasakan, Kenapa dia tak berhenti mengemis ? Mengapa Dia tak mencoba mencari pekerjaan yang layak ?
~~~~~~ kisah nyata dari seorang sahabat~~~~~~~~~~~

0 Response to "Sang Pengemis"
Posting Komentar